Sebatang Pohon di Tengah Hutan: Meditasi Dalam Segala Objek Kehidupan

Ajahn Chah, seorang bhikkhu hutan, praktisi sekaligus guru meditasi yang mengajar siswa-siswanya dengan cara yang sangat unik dan eksentrik. Sangat tdak umum dan tdak biasa. Cenderung aneh. Kadang lucu, polos, bahkan terkadang tidak masuk akal. Menggunakan banyak perumpamaan, yang merupakan pengalaman beliau selama bertahun-tahun di hutan Thailand. Sarat dengan hal-hal yang tidak terduga. Segar. Mudah diikuti, sekaligus menginspirasi.

Perumpamaan beliau dengan menggunakan pohon sebagai objek dalam mengajar dan menuturkan Dharma terungkap dalam kalimat berikut:
Kita bisa belajar Dharma dari alam. Dari pepohonan misalnya. Sebatang pohon tumbuh karena suatu sebab. Tumbuh mengikuti hukum alam sehingga menghasilkan kuncup bunga. Berbunga, dan menghasilkan buah. Pohon itu membabarkan Dharma kepada kita, tetapi kita tidak mengetahuinya. Kita tdak mampu memahami dan merenunginya. Kita tidak tahu bahwa pohon itu mengajarkan kita Dharma. Buah muncul dan kita hanya memakannya tanpa menyelidikinya: manis, asam, atau asin. Ini juga adalah Dharma, ajaran tentang buah. Selanjutnya, dedaunan menjadi tua. Mereka menguning, mati, dan berguguran. Yang kita lihat hanya daun-daun berguguran. Kita menginjaknya, menyapunya, dan selesai. Kita tidak menyelidikinya sehingga kita tidak tahu alam seoang mengajari kita. Kemudian, daun-daun baru pun tumbuh. Sekali lagi kita hanya melihatnya, tanpa memikirkannya. Ini bukanlah kebenaran yang diterima melalui pencerminan internal.

Jika kita bisa memikirkan dan menyelidiki ini semua, kita akan memahami bahwa kelahiran pohon dan kelahiran kita sebagai manusia tidaklah berbeda. Tubuh kita ini dilahirkan dan muncul, bergantung pada kondisi, pada unsur tanah, air, angin, dan api. Setiap bagian tubuh kita berubah sesuai dengan sifatnya. Tidaklah berbeda dari pohon -rambut, kuku, gigi, dan kulit, semuanya berubah. Jika kita mengetahui.dan menyelami sifat-sifat segala sesuatu di alam, kita akan mengetahui, menyelami, dan menemukan diri kita sendiri. Dan kita dapat berdamai dengan diri kita sendiri, karena tidak ada satu tempat pun di dunia ini yang dapat menawarkan kedamaian yang sesungguhnya. Inilah sifat dunia.

Demikan juga dalam praktik meditasi. Meditasi tidak menjauhkan seseorang dari keramaian. Bahkan membuat kita semakin dekat dengan kehidupan, dengan alam sekitar kita. Meditasi tidak hanya duduk diam. Tidak sesederhana itu. Meditasi dapat dilakukan dalam berbagai aspek kehidupan, dalam segala objek kehidupan, dan dalam segala sisi kehidupan. Meditasi adalah kehidupan itu sendiri, sama dengan menghirup dan menghembuskan napas. Ketika kita menjadi satu dengan kehidupan itu sendiri, berarti kita adalah meditasi itu sendiri. Ketika kita sudah tidak lagi menghirup atau menghembus napas, itu artinya kita tidak bermeditasi lagi, yang sama artinya dengan mati.

Meditasi dalam segala objek kehidupan inilah yang diungkapkan oleh Ajahn Chah dalam buku Sebatang Pohon di Tengah Hutan. Kata-kata dalam buku ini bisa memberikan secercah cahaya dalam kegelapan, setetes kesegaran bagi yang kehausan, setitik petunjuk bagi para pencari kedamaian, dan seperti sebatang pohon yang memberi sedikit bayangan keteduhan bagi siapa saja yang membutuhkan.

Pohon bertindak sebagai pohon, apa adanya, hanya mengikuti jalur alaminya. Demikian ujar Ajahn Chah mengibaratkan dirinya ketika orang orang bertanya tentang latihan beliau. Seperti sebatang pohon yang bisa menginspirasi banyak orang, demikian juga buku yang ditulis oleh seorang Ajahn Chan, yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan, dapat menjadi panduan dalam menjalani kehidupan dan sumber inspirasi bagi pembacanya.


Surabaya:
Sekretariat Yayasan Lumbini
Perkantoran Graha Asri
Jl. Ngagel 179 - 183 Blok K - 22
Telpon (031) 566-6122 | Fax (031) 566-2936
SURABAYA 60246
Trowulan:
Maha Vihara Mojopahit, Trowulan, Mojokerto
Telpon (0321) 495-533 | Fax (0321) 496-075
Email:
yayasan@mahavihara-mojopahit.or.id
vihara@mahavihara-mojopahit.or.id