|
|
Menanam Benih-Benih Dharma di Afrika
Ven. Illukpitiye Pannasekara adalah seorang bhikkhu Sri Lanka dari Dar-Es Salaam di sebuah vihara di Tanzania sejak tahun 1998. Selama beberapa tahun di sana, dia bekerja sama dengan salah satu seminari agama Buddha Afrika To Guang Shan di Afrika Selatan untuk merekrut pelajar asal Afrika untuk mempelajari ajaran Buddha dan bidang studi Cina selama tiga tahun. Bhante Pannasekara mampir sejenak di Malaysia sebelum menghadiri Konferensi Global IV tentang Agama Buddha di Perth, Australia bulan Juni 2006.
Sumanananda, seorang pengajar yang memberikan kelas Dharma bagi tuna rungu setiap dua minggu sekali di Vihara Maha Buddhis, Kuala Lumpur, mewawancarai Bhante Pannasekara tentang kegiatannya selama berada di Benua Afrika untuk Majalah EASTERN HORIZON.
EASTERN HORIZON: Mengapa Anda memilih untuk memberikan pelayanan di Tanzania dan bukan di Sri Lanka ataupun Negara lainnya?
PANNASEKARA: Saya yakin bahwa keberadaan saya ini lebih dibutuhkan di Afrika daripada negara lain. Penduduk di sini kurang berpendidikan, sering terjangkit penyakit, dan penderitaan terlihat dari wajah mereka. Dengan menetap dan menolong mereka untuk mengurangi penderitaan mereka, saya berharap dapat membantu mereka ningkatkan derajat kehidupan mereka. Saya melihat potensi penduduk Afrika untuk memperbaiki hidup mereka tetapi kita perlu membantu mereka.
Dapatkah Anda ceritakan lebih banyak mengenai vihara Buddha di Tanzania tempat Anda tinggal?
Di sini kami mcndirikan sebuah sckolah taman kanak-kanak kecil, kelas meditasi, dan perpustakaan di vihara tersebur. Kami juga ngadakan diskusi tentang Dharma dan kelas bagi yang ingin helajar Dharma. Untuk kedepannya, kami herharap untuk meningkatkan sekolah TK tersebut menjadi sekolah tingkat dasar, mendirikan sebuah lembaga penyuluhan tentang HIV, dan mendirikan panti asuhan bagi anak-anak jalanan. Kami juga ingin bekerja sama dengan Pemerintah dalam proyek untuk memberantas kemiskinan seperti Proyek Mahaweli di Sri Lanka. Sebagai sebuah organisasi agama, kami juga bekerja sama dengan organisasi agama lain dalam aktivitas antar-agama, program perdamaian, dan kegiatan kemanusiaan. Kami juga bekerja sama dengan seminari Buddhis di Afrika, yang didirikan oleh grup Fo Guang Shan di Afrika Selatan, untuk merekrut dan membimbing penduduk asli Afrika menjadi bhikshu.
Seminari tersebut sampai saat ini telah mendidik lebih dari 300 orang Afrika tentang agama Buddha dan bidang studi Cina tetapi hanya beberapa saja tetap menjadi bhikshu. Apakah Anda menganggap usaha ini hanya membuang waktu dan tenaga saja?
Tentu saja tidak! Cobalah memandang hal itu seperti ini. Kami saat ini sedang berada di tahap pertama untuk mempersiapkan lahan ini agar dapat ditanami. Pada akhirnya benih-benih yang baik akan tertanam di seluruh pulau ini. Afrika belum mengenal ajaran-Buddha, dan di banyak tempat agarna Buddha itu belum pernah terdengar. Buddha Dharma adalah makhluk asing bagi mereka. Saat orang-orang Afrika tersebut belajar di seminari, mereka tinggal sebagai seorang bhikshu yang mana itu adalah sebuah pengalaman yang sangat positif bagi mereka. Walaupun mereka tidak melanjutkan kehidupan sebagai bhikshu setelah pelajaran dan latihan mereka selama tiga tahun, mereka tetap bertahan sebagai umat Buddha, dan telah membantu organisasi Buddhis lokal mendirikan kelompok diskusi dan mengajarkan Dharma kepada umat yang lebih baru. Itu merupakan keberhasilan. Tetapi saya yakin bahwa pada akhirnya sehagian dari mereka akan menjadi bhikshu tetap. Kita hanya perlu bersabar.
Berapa banyak jumlah bhikshu di Afrika saat ini?
Vihara Buddha yang pertama di Afrika diresmikan pada tahun 1919, sudah hampir seabad yang lalu. Dalam 12 tahun terakhir, kami mempunyai sekitar lima orang bhikshu asli Afrika yang datang dari Uganda, Afrika Selatan, Malawi, dan Tanzania. Satu dari mereka adalah penganut tradisi Theravada, dan empat orang lainnya adalah penganut tradisi Mahayana. Agar ajaran Buddha di Afrika dapat berakar dengan kuat, kita memerlukan putra-putra Afrika sendiri yang mengenakan jubah-jubahnya. Sangha yang datang dari luar Afrika hanya dapat membantu mempercepat perkembangannya, tetapi umat Afrika sendirilah yang harus mengemban tugas tersebut dengan sepenuh hati dan membuka jalan tersebut.
Tentu saja peristiwa yang paling bersejarah terjadi di Uganda tahun 2005 ketika Ven. Buddharakkhita meresmikan pusat agama Buddha yang pertama yang dipimpin oleh seorang bhikshu Afrika. Keluarga dan teman-temannya juga pindah ke agama Buddha. Seorang bhikshu asal Tanzania lulusan dari seminari Buddhis di Afrika juga akan mendirikan sebuah pusat agama Buddha di Dar Es Salaam. Tiga bhikshu lainnya yang lulus dari seminari sekarang berada di pusat Fo Guang Shan di Afrika Selatan dan Malawi.
Anda pernah bekerja sama dengan Fo Guang Shan di Afrika. Seberapa giatnya kelompok ini?
Menurut saya Grup Fo Guang Shan yang didirikan oleh Master Hsing Yun dari Taiwan, adalah kelompok yang paling aktif dalam hal menyebarkan ajaran Buddha di Afrika. Mereka telah menyebarkan banyak jaringan untuk menyebarkan ajaran Buddha dengan didukung oleh Taiwan dan komunitas Cina di Afrika. Mereka telah membangun vihara, pusat
pendidikan, dan panti-panti amal di Afrika Selatan, Malawi, dan Zimbabwe. Beberapa di antara, pekerjaan amal mereka adalah panti asuhan dan penampungan fakir miskin bagi yang menderita penyakit berat, termasuk penderita AIDS. Fo Guang telah memberikan ribuan kursi roda berbagai bagian Afrika. Mereka benar-benar telab memberikan manfaat bagi masyarakat Afrika dan saya kira saat ini mereka adalah kelompok Buddhis yang paling mendapat perhatian. Tentu saja mereka hanyalah sekelompok kecil apabila dibandingkan dengan misionaris Kristen dari Barat yang dananya jauh melebihi kemampuan mereka
Siapa yang memegang kendali di belakang Fo Guang Shan di Afrika?
Saar ini Ven. Hui Lee dari Taiwan mengepalai pusat Fo Guang San di Afrika Selatan. Dia telah berada di Afrika Selatan sejak tahun 1992 dan membangun pusat Fo Guang Shan dari awal. Dia mulai dengan mendirikan penginapan dan kemudian ruang kebaktian. Kemudian dia mendirikan seminari Buddhis Afrika. Saat ini sudah terdapat 66 penginapan yang disewakan kepada pengunjung sebagai salah satu cara mendapatkan penghasilan untuk membiayai kegiatan di pusat tersebut.
Ven. Hui Lee percaya bahwa ajaran Buddha akan benar-benar berakar di Afrika dalam 200 tahun, dan dia mengumumkan sumpah dan aspirasinya untuk bertumimbal lahir di Afrika sebanyak 2 - 3 kali lagi demi mewujudkan cita-cita ini. Sebenarnya, Ven. Hui Lee telah diminta untuk kembali ke Taiwan oleh Guru Besar Hsing Yun untuk membantu kegiatan misionari di sana, tetapi sebaliknya dia meminta agar diijinkan untuk tetap tinggal di Afrika agar dapat meneruskan pekerjaannya dalam mewujudkan cita-citanya tersebut. Ven. Hui Lee adalah wakil dari banyak vihara lain di Fo Guang Shan demi tanggung-jawabnya kepada Buddha Dharma. Karena bhikshu seperti Ven. Hui Lee lah maka Fo Guang Shan saat ini dapat memiliki lebih dari 200 pusat kegiatan di seluruh dunia yang teguh menyebarkan ajaran Buddha.
Tahukah Anda seberapa luas penyebaran ajaran Buddha di Afrika sekarang ini?
Di Buddhanet (http://www.bnddhanet.net/ africame/africadir.htm) disebutkan bahwa terdapat pusat Dharma dan vihara-vihara yang tersebar di paling sedikit 11 negara di Benua Afrika, dengan sekitar 40 pusat kegiatan di Republik Afrika Selatan saja. Sepengetahuan saya, terdapat pusat agama Buddha di Tanzania, Afrika Selatan, Botswana, Kenya, Malawi, Zimbabwe, dan Uganda. Sebagian besar dari pusat-pusat agama Buddha tersebut berafiliasi dengan Zen, Mahayana dari Cina, atau tradisi Tibet. Kegiatan mereka cenderung dimulai dari para pendukung yang merupakan umat Buddha dari Asia dan Barat yang tergabung dalam kelompok-kelompok seperti Western Buddhist Order, Asosiasi Zen Internasional, Karma Kagyu, dan pusat-pusat Vipassana. Masyarakat Sri Lanka telah mendirikan vihara Buddha Tanzania di Dar Es Salaam tahun 1915, dan dua vihara Buddhis lainnya di Botswana tahun 1991 dan di Kenya 1999. Oleh karena itu, kami memiliki tiga tradisi Afrika. Kami menyebutnya MTV Buddhis -yaitu Mahayana, Theravada, dan Vajrayana! Sejauh ini, pusat agama Buddha yang terbesar ada di Afrika Selatan. Banyak cendekiawan di beberapa universitas di bagian negara ini yang telah melakukan riser tentang ajaran Buddha.
Jadi seberapa besar populasi umat Buddha di Afrika sekarang?
Saat ini masih sangat sedikit penganut agama Buddha di Afrika. Mari kita ambil contoh 33 juta orang di Tanzania. Hanya 300 orang pemeluk agama Buddha yang 100 diantaranya orang Asia. Di Afrika Selatan ada 60 juta penduduk, dan umat Buddhanya terdiri dari 100 ribu orang. Di Botswana dari 1,5 juta orang hanya 800 saja pemeluk agama
Buddha. Pada semua kasus ini mayoritasnya adalah orang Asia dan sebagiannya adalah orang Barat. Ketika diskusi Dharma diselenggarakan di Afrika Selatan sebagian besar pesertanya adalah orang Asia, beberapa orang kulit putih, dan sangat sedikit sekali orang Afrika. Oleh karena iru masih banyak tugas yang harus dikerjakan untuk mengajarkan agama Buddha kepada penduduk Afrika. Tetapi sudah ada peningkatan jumlah kelompok Buddhis yang telah didirikan di seluruh Afrika.
Apakah berbagai kelompok yang berbeda tradisi ini dapat bekerja bersama?
Kelompok yang berbeda ini memang berkumpul bersama, terutama pada perayaan besar seperti hari raya Waisak. Sebagai contoh, pusat Buddhis di Tanzania dari tradisi Theravada telah sering bekerja sama dengan sekolah Buddhis Afrika yang bertradisi Mahayana. Kami membantu merekrut murid-murid untuk sekolah tersebut dimana saya juga adalah salah satu guru mereka untuk pelajaran Buddha Theravada. Sebagai gantinya, mereka membantu vihara kami mendirikan aula serba guna dan mensponsori sekolah Doktoral saya Universitas Afrika Selatan.
Kenyataannya adalah bahwa agama Buddha dapat berkembang di Afrika karena kerjasama yang erat dari grup-grup MTV (Mahayana, Theravada, dan Vajrayana). lni adalah perkembangan positif yang sudah berlangsung selama dekade terakhir ini. Saya rasa komunitas Buddhis sudah membuka diri. Sebagai contoh, di dalam vihara-vihara di Afrika Selatan dan vihara-vihara Mahayana di Malawi terdapat patung Buddha dari Sri Lanka. Disebuah kuil Hindu di Malawi, terdapat satu bagian di mana patung Buddha diletakkan di altar Buddhis lengkap dengan pohon bodhinya dan kerap dikunjungi oleh masyarakat Sri Lanka. Di Kenya, ada seorang penganut asal Sri Lanka menjadi sponsor utama bagi pusat-pusar bcrtradisi Theravada dan Mah,ayana. Di vihara kami di Tanzania, komunitas Sri Lanka yang terdiri dari Muslim, Kristen, Buddhis dan Hindu hertemu secara berkala. Vihara di Botswana yang didirikan oleh umat Sri Lanka, dibangun oleh seorang Kristen Sri Lanka yang istrinya-ada1.h;-$eorang Buddhis. Upacara pereskn pus Fo Guatm Shan di Afrika Selatan
Mengapa hanya sedikit perhatian terhadap Afrika dibandingkan dengan Amerika Utara, Eropa atau Australia/Selandia Baru dimana lebih banyak anggota Sangha yang menuju ke sana?
Bekerja di Afrika itu sangat sulit dan keras. Itu adalah suatu lingkungan yang kekurangan kebutuhan pokok, sumber daya, dan infrastruktur. Stabilitas politik juga merupakan isu utama di banyak wilayah. Oleh karena itu bisa dimengerti jika tidak terlalu banyak bhikshu yang sangat tertarik untuk bekerja di lingkungan yang sulit ini. Sebenarnya, saya kesulitan untuk mengundang bhikshu-bhikshu Asia untuk bekerja dengan bhikshu-bhikshu Afrika di sini. Saya rasa anda membutuhkan belas kasih yang sangat besar untuk bisa berada di Afrika, karena jauh lebih banyak penderitaan di sini daripada di tempat mana pun di dunia ini. Bagaimanapun juga, kami adalah bhikshu dan salah satu tugas kami adalah membawa kebahagiaan ke semua orang. Oleh karenanya kita membutuhkan bhikshu-bhikshu yang menyadari situasi di lapangan dan juga rela untuk menjalankan tugas-tugas mereka dan mendukung misi kami di Afrika. Jika kami bisa mengadakan suatu kelompok pendukung internasional, hal itu akan dapat membantu mendapatkan beberapa bhikshu yang mungkin dapat memberikan pelayanan selama dua tahun dengan dibiayai tiket pesawat mereka untuk pulang pergi dengan tujuan Afrika dan menjalankan program pembiayaan terbatas. Ini membutuhkan kerjasama dari Sangha dan umat awam untuk mewujudkan impian tersebut.
Jika Anda diberikan satu permohonan untuk agama Buddha di Afrika, apakah itu?
Saya melihat tumbuhnya minat orang Afrika setempat dan mereka menyukai ajaran Buddha. ada awalnya irii akan sulit karena berbagai faktor, yaitu kemiskinan, kekurangan guru Dharma, kekurangan materi Dharma, tidak ada kebiasaan
untuk berderma, mudah mendapatkan narkoba dan alkohol, kebiasaan membunuh binatang demi kelangsungan-hidup, ketergantungan pada upacara ritual dan dewa-dewa, dan persaingan yang sangat keras dengan misionaris dari agama lain. Bagaimanapun juga, setelah beberapa tahun, sekarang kami mengerti permasalahan mereka dan kami lebih mampu untuk mengajarkan nilai-nilai Buddhis kepada mereka.
Bisa dikatakan bahwa cita-cita kami adalah untuk menghasilkan paling sedikit satu bhikshu lokal di setiap negara di Afrika. Rencana jangka menengahnya adalah mencapai tujuan ini di sepuluh dari 53 negara di Afrika. Saya bekerja sama sangat erat dengan para pemula untuk menerjemahkan buku saku sederhana ke dalam bahasa Afrika setempat seperti Kishwahili dan Chichewa. Buku saku ini diterbitkan di Malaysia dan dikirim ke Afrika untuk dibagikan secara gratis dan juga untuk ditempatkan di perpustakaan. Sejauh ini kami sudah menerbitkan 6 judul. Kami juga membutuhkan bhikshu-bhikshu untuk datang dan memberikan pelayanan di Afrika setidaknya selama dua tahun, di mana setiap bhikshu bekerjasama dengan bhikshu setempat untuk memberi mereka dukungan, dorongan serta inspirasi. Banyak dari pusat agama Buddha yang sudah ada tidak mempunyai bhikshu yang menetap. Hanya ada bhikshu tamu yang tinggal sementara. Dalam perjalanan saya ke Asia saya mencoba untuk mencari dan membujuk bhikshu-bhikshu muda untuk datang ke Afrika dan bekerja setidaknya selama dua tahun. Untuk mewujudkan cita-cita ini, semua kelompok Buddhis harus bekerja sama untuk satu tujuan ini.
|
|
|
|
|
Surabaya:
Sekretariat Yayasan Lumbini
Perkantoran Graha Asri
Jl. Ngagel 179 - 183 Blok K - 22
Telpon (031) 566-6122 | Fax (031) 566-2936
SURABAYA 60246
|
|
|
|
|
|