Seks & Pelepasan Belajar dari Kamasutra
Manusia hidup tak lepas dari kesadarannya. Bahkan kesadaranlah yang dapat menentukan kwalitasnya sebagai makhluk. Terdapat tingkat-tingkat kesadaran. Diantaranya adalah tingkat kesadaran inderawi (kamavacara), yakni kesadaran yang masih memeriukan pemuasan panca-indra dengan obyek-obyeknya, seperti nafsu keinginan seksual (kamatanha).
Karena bersumber pada nafsu keinginan seksual inilah manusia menjalani kehidupan seksualnya sebagaimana tampak pada kehidupan suami-isteri. Sukar membayangkan bila kehidupan suami isteri tanpa pergaulan seksual, karena justru hendak teriibat dalam pergaulan seksual itulah mereka menjalani kehidupan sebagai suami isteri.
Memang, kehidupan seksual itu sendiri bukanlah berarti tidak dapat dilakukan tanpa menjalani kehidupan sebagai suami isteri. Tetapi, kehidupan seksual yang dilembagakan dalam perkawinan, umumnya dipandang sebagai suatu perwujudan naluri seksual manusia yang mencerminkan ketinggian peradabannya. Lepas dari itu semua, seks memang selalu menyertai perjalanan manusia dan evolusi kesadarannya.
Belajar dari Kamasutra yang berintisari pada ajaran Tantra akan terlihat bahwa mencapai kepuasan dalam bidang inderawi ini merupakan suatu kekayaan terbesar bagi tahapan kehidupan manusia dan peningkatan kesadarannya yang lebih tinggi. Manusia yang tampaknya sukar luput dari seks atau pergaulan seksual ini, hendaknya juga tahu bagaimana memperoleh kepuasan yang sebenarnya darinya dengan sebaik-baiknya.
CINTA
Baik dalam The Kamasutra of Vatsyayana, (Lutre Press, 1982), New Delhi), maupun Anand Krishna, Kamasutra, (Gramedia, Jakarta, 2000), Kamasutra yang berisikan pedoman tentang hawa nafsu banyak mengungkapkan tentang seluk beluk seni dan tehnik bercinta untuk mencapai kepuasan yang optimal itu.
Untuk itu dinyatakan bahwa pemenuhan seks atau nafsu birahi saja tidak cukup, bila tidak disertai oleh cinta. Tanpa cinta, Kamasutra akan kehilangan maknanya karena kamasutra hanya akan dapat dipraktekkan apabila sudah ada cinta.
Pentingnya cinta dalam seks adalah untuk memanusiakan kembali manusia. Dengan cinta, hubungan seks menjadi hubungan yang lebih manusiawi. Sastrawan dunia, D.H. Lawrence, dalam novelnya Lady Chatterley's Lover (1926), yang filmnya Lady Chatterley telah beredar di Indonesia (2000) mengilustrasikan hal ini dengan indah sekali lewat dialog antara Lady Chatterley dan Melor kekasihnya dan juga pasangan selingkuhnya.
"Tapi apa yang kamu percaya? Desahnya, "Saya tidak tahu, kata Lady Chatteriey. Keduanya diam. Kemudian Mellor berdiri dan berkata, Ya, saya mempercayai sesuatu. Saya percaya pada kehangatan hati dalam cinta, pada persetubuhan dengan hati yang hangat. Saya percaya jika lelaki bisa bersetubuh dengan hati yang hangat, dan perempuan menyambutnya sama hangatnya, segalanya akan baik. Bersetubuh dengan hati yang dingin adalah mati dan idiot!"
Dalam seks terjadi pelepasan, penyerahan total pria dan wanita. Begitu pula dengan cinta yang sifatnya memberi dan menaruh penghargaan dan perhatian luar biasa. Sebagai suatu tahapan hirarki kesadaran, seks mengawali tahapan kesadaran seseorang. Dan pelepasan dalam seks yang semakin manusiawi bila disertai cinta itu sesungguhnya merupakan langkah untuk mencapai kesadaran yang lebih tinggi yakni kasih.
Kasih merupakan suatu pelepasan agung demi umat manusia dan alam semesta. Pelepasan agung ini telah diperlihatkan Sidharta Muda ketika ia meninggalkan istananya, kehidupan keluarganya, kesedapan hidup duniawinya pergi menjadi pertapa demi kasihnya untuk membebaskan manusia dan semua makhluk dari penderitaannya.
KASIH
Tidak hanya berhenti pada cinta, karena setelah cinta ada kasih. Dari seks, cinta hingga kasih. Dari passion, love to compassion. Kasih atau compassion adalah birahi alam semesta, kasih terhadap semua makhluk, terhadap Tuhan, Yang Mutlak, Yang Tak Dapat dijelaskan.
Dari birahi inderawi menuju ke kesadaran rohani tertinggi. Dari pelepasan seks melalui cinta menuju kasih sayang yang melepaskan. Dalam kesadaran kasih, tidak ada lagi ego, tidak ada lagi kepentingan individu.
Dalam kesadaran rohani tertinggi atau yang disebut juga kesadaran Buddha (Bodhicitta) ini para master bertemu, para nabi bertemu. Dalam kesadaran kasih tidak akan pernah terjadi perang antar agama, antar suku, antar bangsa, karena semua manusia adalah bersaudara.
Kamasutra mengajarkan agar keinginan seksual (kamatanha) sebaiknya dipenuhi dulu, ditepaskan agar seks kelak tidak lagi menjadi obsesi bila teiah memutuskan berjalan di jalan spiritual. Baru dengan begitu, dan hanya setelah itu, akan mengenal cinta, dan setelah itu, hanya setelah itu baru mencapai kasih.
Dalam buku Kamasutra, Bhagavan Vatsyayana tidak hanya memaparkan tentang tehnik bercinta. Dalam bab pertama tentang meditasi misahiya, Vatsyayana bahkan mengajak pembaca untuk merenungkan dirinya, apakah dirinya itu hanya sekedar badaniah saja? Bukanlah terdapat lapisan kesadaran yang lebih tinggi? Kenapa tidak menapakinya?
Dalam buku tersebut juga tidak hanya dibicarakan mengenai hubungan seks semata atau kehidupan seksual yang aman, namun juga jauh lebih luas adalah mengenai kehidupan persuami-isterian yang langgeng. Bagaimana mengisi masa pacaran dengan baik, berbagai jenis cinta, disamping tentang berbagai'jenis sexual-union, kissing, serta bagaimana menjadi seoerang isteri yang mulia yang dapat bercinta kasih.
ENERGI SEKS
Unsur seks (bhavarupa) tampaknya menempati sesuatu yang cukup mendasar dalam rupa manusia, yang terdiri dari unsur seks betina (itthi-bhava) dan jenis kelamin jantan (purisa-bhava). Seks juga mengandung energi yang memancarkan kekuatan dan menggerakkan perilaku manusia, seperti yang diungkapkan Francis Story.
Dalam Dimensions of Buddhist Thouhgt, (1982), Frands Story mengungkapkan mengenai adanya energi atau kekuatan yang menggerakkan perilaku manusia. Energi itu adalah: sensual craving (kamatanha) atau nafsu inderawi, keinginan untuk perwujudan (bhava tanha) atau eros, dan keinginan untuk pemusnahan (vibhava-tanha) atau thanatos.
Energi yang terkandung dalam seks sebagai elemen vital inilah yang kerap menjadi motivasi dan inspirasi berbagai kegiatan kreatif, baik di bidang seni dan budaya, intelektual maupun spiritual. Bapak Psikoanalisa, Sigmund Freud (1856-1939) yang memunculkan istilah eros dan thanatos sebagai energi di dalam diri manusia itu, bahkan menyebutkan bahwa segala peradaban manusia tidak lain adalah sublimasi dan transformasi dari energi seksual manusia.
Seks dapat dijalani baik sebagai prokreasi, rekreasi, dan relasi. Seks juga mengawali kehidupan manusia. Seorang anak hadir berkat hubungan seks dan pelepasan energi seks kedua orang tuanya, yang begitu hadir segera ingin diketahui apa jenis seksnya.
Bahkan pencapaian cita-cita seorang pejalan kesucian yang hidup selibet seperti para bhiksu dan bhiksuni amat tergantung sekali dengan seks ini; bagaimana pemahamannya dan periakuannya. Istilah nirvana sendiri yang menjadi cita-cita Buddhis dan pejalan kesucian itu, juga diartikan dengan padamnya hawa nafsu.
Menurut Anand Krishna, kesadaran seks pada manusia itu berpusat pada bagian tubuh di bawah pusar. Sedangkan di atas pusar, sekitar jantung dan dada merupakan pusar kesadaran cinta, dan paling atas sekitar kepala tempat bersemayamnya kasih.
Ajit Mookerjee dalam Kundalini, The Arousal of The Inner Energy, (Thames and Hudson, London, 1995) pun menungkapkan adanya sentra-sentra energi yang berada di sekitar pusar, dada, kepala, dan berhubungan dengan peningkata kesadaran manusia.
Energi seksual memang dapat dilepaskan seturut dengan kesadaran manusia yang mendasarinya. Entah itu kesadaran inderawi (kamavacaram) dalam relasi seksual, maupun subimasinya dalam karya budaya dan transformasinya yang berpuncak pada pelepasan dalam kasih melalui kesadaran transenden (lokuttara), kesadaran yang telah menyatu dengan alam semesta, birahi semesta.
Dalam kasih atau kesadaran transenden tersebut tidak ada lagi keakuan, egoisme karena memandang semua makhluk dengan penuh cinta kasih. Dan melalui praktek yoga, energi seksual dapat ditransformasikan untuk membangkitkan sakti-kundalini ateu energi alam semesta dan bersatu dengan siva (innerself) yang merupakan puncak pelepasan yang tiada tara, sebagai kasih alam semesta.
Puncak dari sikap melepas total dalam kasih sayang umat manusia. Kasih yang meluap dalam ucanan sabbe bhavantu sukhitata: semoga semua makhluk (JP).