Sutra Seratus Perumpamaan 14-16


PERUMPAMAAN PEDAGANG MEMBUNUH UNTUK KORBAN DEWA
Dahulu kala ada sekelompok pedagang yang hendak mengarungi samudra untuk berdagang di seberang lautan. Untuk itu mereka memerlukan seorang pemandu jalan. Mereka berunding dan kemudian sepakat mencari pemandu. Setelah memperoleh seorang pemandu, berangkatlah rombongan pedagang ini. Di tengah perjalanan mereka tiba di sebuah padang yang luas, di tengahnya ada sebuah tempat pemujaan dewa. Menurut kebiasaan harus mengorbankan seorang dari mereka untuk dapat meneruskan perjalanan. Para pedagang itu lalu berunding. "Rombongan kita ini terdiri dari para sanak famili, tidaklah mungkin membunuh satu pun dari kita. Hanya pemandu ini yang tepat dijadikan sebagai korban persembahan bagi dewa." Kemudian mereka membunuh pemandu itu. Setelah selesai melakukan persembahan korban, mereka bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Tetapi mereka tak tahu jalan untuk keluar dari padang belantara itu, akibatnya mereka semua meninggal sebelum mencapai tujuan.

Demikian pula para umat manusia di dunia ini, mereka ingin mencari permata di samudra Dharma yang luas, untuk itu mereka melakukan pelatihan diri dan perbuatan bajik sebagai ibaratnya guru pemandu jalan. Tetapi mereka sendirilah yang kemudian merusak perbuatan bajik itu sehingga terperosok ke jalan tumimbal lahir yang sangat panjang dan tak memiliki harapan untuk memperoleh kebebasan sejati.

Hal ini sama seperti para pedagang yang membunuh pemandu jalan sebelum berhasil mengarungi samudra, akibatnya mereka sendiri meninggal di tengah perjalanan.

PERUMPAMAAN OBAT PENUMBUH PUTRIRAJA
Dahulu kala ada seorang raja yang melahirkan seorang putri. Dia segera memanggil seorang raja tabib. "Bantu memberi putriku ramuan obat agar dapat segera tumbuh dewasa." Tabib lalu menjawab, "Saya dapat memberi ramuan obat mujarab yang akan membuat Tuan Putri segera tumbuh dewasa. Tetapi gudang kerajaan saat ini tidak memiliki bahan obat ini, saya harus pergi mencarinya. Selama saya belum menemukan bahan obat ini, mohon Paduka Raja untuk tidak melihat Tuan Putri. Setelah Tuan Putri meminum ramuan obat itu, barulah Paduka boleh menemuinya."

Tabib itu kemudian berangkat pergi mencari obat. Dua belas tahun kemudian setelah menemukan bahan obat dan meminumkannya pada putri raja, tabib lalu membawa sang putri menghadap raja. Melihat hal ini, raja menjadi gembira. "Benar-benar seorang tabib yang hebat, setelah meminum ramuan obatmu putriku dengan cepat tumbuh dewasa." Raja segera memerintahkan para menteri yang mendampinginya untuk memberikan hadiah permata kepada tabib sakti itu. Banyak orang yang menertawakan kebodohan raja yang ternyata tidak menyadari usia sang putri yang sebenarnya, menganggap putrinya tumbuh menjadi remaja karena meminum ramuan obat.

Demikian pula para manusia di dunia ini, mereka mencari para bijaksana dan berkata, "Saya ingin memperoleh jalan suci. Mohon pertolongan Anda agar saya dapat memperoleh jalan suci itu dengan segera." Mereka yang bodoh ini tidak menyadari bahwa pelatihan Buddha Dharma harus dilakukan dalam keseharian dengan secara bertahap yang pada akhirnya akan membawa pada kesempurnaan. Mereka yang tidak memiliki keteguhan, tidak berlatih dengan giat serta hanya menginginkan jalan pintas, maka sama seperti halnya raja yang bodoh yang ingin melihat putrinya segera tumbuh dewasa dengan hanya meminum ramuan obat.

PERUMPAMAAN MENYIRAMI TEBU
Dahulu kala ada dua orang petani tebu. Suatu ketika mereka sepakat untuk berlomba. "Siapa menghasilkan tebu yang manis, dia memperoleh hadiah. Sebaliknya, siapa yang tebunya jelek harus diganjar hukuman." Salah satu dari mereka kemudian berpikir, "Tebu pada dasarnya manis, kalau diperas dan sarinya digunakan untuk menyirami bibit tebu maka tebu itu akan tumbuh dengan lebih manis. Dengan demikian aku akan memenangkan perlombaan ini." Dengan segera dia memeras banyak tebu dan menggunakan sari tebu itu untuk menyirami bibit tebu. Alih-alih memperoleh tebu yang manis, justru sebaliknya, semua tebu yang ditanamnya menjadi rusak.

Demikian pula umat manusia di dunia ini yang ingin memperoleh kebahagiaan ataupun mempelajari Buddha Dharma, tetapi menggunakan cara yang salah. Perbuatan seperti ini bukan saja menyia-nyiakan waktu yang berharga, pun akan menghasilkan buah karma buruk. Janganlah kita menjadi orang yang tidak memahami hukum sebab akibat dengan benar seperti halnya petani tebu yang menggunakan sari tebu untuk menyirami tebu yang ditanamnya.


Surabaya:
Sekretariat Yayasan Lumbini
Perkantoran Graha Asri
Jl. Ngagel 179 - 183 Blok K - 22
Telpon (031) 566-6122 | Fax (031) 566-2936
SURABAYA 60246
Trowulan:
Maha Vihara Mojopahit, Trowulan, Mojokerto
Telpon (0321) 495-533 | Fax (0321) 496-075
Email:
yayasan@mahavihara-mojopahit.or.id
vihara@mahavihara-mojopahit.or.id