TANPA KEKERASAN

Tanpa kekerasan biasanya dikenal sebagai Ahimsa, berarti tidak merusak atau tidak membahayakan. Ada aspek lain dari tanpa kekerasan, yaitu tidak kejam atau avihimsa. Kekerasan selalu melahirkan kekerasan berikutnya. Buddha mengingatkan bahwa seseorang mungkin menggunakan kekerasan menindas pihak lainnya, dan sejauh itu ia mencapai tujuannya. Namun jika orang ditindas oleh yang lain, dia akan balas menindas pula (S. I, 83). Karena itu, Ia mengajarkan bagaimana seseorang yang diperlakukan buruk oleh orang lain harus bersabar sehingga membuatnya menjadi menang. Kemarahan harus dikalahkan dengan cinta kasih, kejahatan dibalas dengan kebaikan, kekikiran ditundukan dengan kemurahan hati dan kebohongan disingkirkan dengan kejujuran. (Dhp. 223). Menurut Buddha, yang lebih jelek diantara dua, adalah ia yang ketika menghadapi kekerasan membalas dengan kekerasan (S. I, 163). Buddha dalam pentas sejarah hadir berupaya menciptakan dunia yang bebas dari kekerasan. Untuk itu Ia mengubah kebencian menjadi cinta kasih.

Menurut Thich Nhat Hanh, hakikat dari tanpa kekerasan adalah cinta. Dengan adanya cinta dan kerelaan untuk bertindak tanpa keakuan (egoistis), maka berbagai strategi, taktik, dan teknik untuk berjuang tanpa kekerasan akan muncul dengan sendirinya. Setiap orang dapat melakukan aksi tanpa kekerasan, bahkan tentara sekalipun. Ia menolak perlakuan yang diskriminatif atau menyingkirkan sebagian orang yang dipandang sebagai musuh. Sebaliknya, mereka harus didekati dengan cinta sehingga bergerak ke arah tanpa kekerasan. Katanya, tindakan tanpa kekerasan yang muncul dari kesadaran terhadap penderitaan dan berlandaskan cinta adalah sebuah jalan yang paling efektif untuk menghadapi kesulitan. Tentu saja memperjuangkan sesuatu tanpa kekerasan memerlukan kecerdikan dan kebijaksanaan, jangan menunggu sampai keadaan kritis terjadi.

Selain aksi tanpa kekerasan, ada waktunya tanpa-aksi juga penting. Tanpa-aksi tidak dapat dibenarkan ketika menghadapi situasi yang memerlukan pertolongan, atau ketika melihat ketidakadilan. Tanpa kekerasan jelas bukan sikap pengecut, tetapi justru hanya bisa ditunjukan oleh pemberani sejati. Contoh keberanian yang ditunjukan oleh Mahatma Gandhi dengan gerakan satyagraha dan ahimsa. Kekerasan dilawan dengan tanpa kekerasan. Kalau tidak, sama saja halnya dengan penjahat yang satu membunuh penjahat yang lain.

Terdapat hubungan yang erat antara damai dalam hati dan damai di dunia luar. Setiap orang harus bisa menahan diri, damai secara internal dalam batin, sehingga mampu menciptakan kedamaian eksternal lewat tanpa kekerasan. Orang yang batinnya tidak damai, yang dicengkeram keserakahan, kebencian dan kegelapan batin, tidak akan mampu memberi konstribusi dalam menciptakan masyarakat yang damai, yang bebas dari kekerasan. Pada orang yang menyimpan dalam dirinya pikiran sebagai berikut: Ia menghina aku, ia memukul aku, ia mengalahkan aku, ia merampas milikku, kebencian tidak akan pernah berakhir (Dhp. 3).


Surabaya:
Sekretariat Yayasan Lumbini
Perkantoran Graha Asri
Jl. Ngagel 179 - 183 Blok K - 22
Telpon (031) 566-6122 | Fax (031) 566-2936
SURABAYA 60246
Trowulan:
Maha Vihara Mojopahit, Trowulan, Mojokerto
Telpon (0321) 495-533 | Fax (0321) 496-075
Email:
yayasan@mahavihara-mojopahit.or.id
vihara@mahavihara-mojopahit.or.id