Praktik yang Bermanfaat
Para bijaksana yang hidup di dunia ini
Dunia saha ini terbangun dari hubungan antara pasangan yang saling berlawanan; sehingga semua hal tampak dalam bentuk setengah: setengah gelap, setengah terang, setengah baik, setengah buruk, setengah bijaksana dan setengah gelap batin.
Seorang bijaksana akan selalu berbuat yang terbaik untuk membuat orang-orang di sekitarnya berbahagia. la akan berusaha menyuntikkan energi positif ke dalam dunianya dan menjadi sumber dari kesadaran tertmggi jika ia mampu. Sebaliknya orang yang gelap batinnya selalu ingin melakukau hal yang berlawalan; ia negatif, culas, dan senang jika ada kesalahan. Alih-alih menolong orang lain, ia lebih suka menghalangi orang lain dan menyeret mereka ke tingkat yang lebih rendah dari dirinya.
Kebanyakan orang adalah bauran dari energi-energi di atas. Ketika hal ini sudah dimengerti, maka secara alami kita ingin menjadi lebih bijaksana daripada menjadi lebih gelap batin. Kebijaksanaan tertinggi di dalam ajaran Buddha adalah prajna: kebijaksanaan yang memahami sifat kesunyaan dari segala fenomena, dan pada waktu yang bersamaan memahami perlunya belas kasih. Seseorang yang memiliki kebijaksanaan prajna akan mampu mengatasi semua kesulitan. Kebijaksanaan prajna membawa kita ke pencerahan sempurna dengan cepat karena ia tidak dapat tertahan di dalam dualitas samsara atau dalam kemelekatan akan semua ilusi.
Sering berbuat hal-hal yang bermanfaat
Bagaimana kita dapat mencapai kebijaksanaan prajna?
Sutra-sutra Buddhis mengatakan ada dua jalan dasar:
1) Jalan yang pertama adalah jalan "tiga pelajaran". Ini adalah pelajaran tentang aturan moral, meditasi, dan prinsip-prinsip Buddhis.
2) Jalan yang kedua adalah mempelajari Dharma dengan teratur. Sering mempelajari Dharma adalah hal yang sangat penting. Jika ada seseorang di dekat Anda yang akan berbicara mengenai Dharma, dengan cara apa pun pergi dan dengarkanlah. Luangkanlah waktu untuk membahas Dharma dengan teman-teman. Renungkanlah Dharma, bacalah buku-buku Dharma, dan petajarilah sutra-sutra. Tujuan utama kita mempelajari Dharma adalah untuk rnengembangkan kesadaran tertinggi. Mempelajari Dharma akan membawa kemajuan diri. Itulah sebabnya, terus mempelajari Dharma adalah begitu penting; karena kita belajar dan tumbuh, pemahaman Dharma kita betul-betul berkembang. Dharma tidak akan pernah sama bagi orang yang sama pada waktu yang berbeda karena orang yang sama pada waktu yang berbeda tidak akan sama. Salah satu hal terindah dari Dharma adalah kemampuan Dharma untuk menghasilkan penafsiran yang terus makin tinggi sejalan dengan perkembangan belajar kita.
Jika kita dengan aktif membantu orang lain dan setiap hari merenungkan Dharma, kita boleh yakin bahwa kita telah melakukan "perbuatan yang bermanfaat", baik bagi diri sendiri sekaligus orang lain.
Memahaml dirimu sendiri
Oleh karena segenap semesta terkandung di dalam pikiran, memahami pikiran adalah tujuan utama dari seluruh pencari kebenaran. Usaha terus-menerus harus dilakukan. Hal ini berarti kita mempraktikkan Dharma sepanjang hari, setiap hari, di mana pun kita berada. Inilah ajaran Buddha humanistik. Pikiran kita terangyang dan tertantang oleh orang lain lebih dari segala sesuatunya. Jika kita mengetahui hal ini. kita menyadari bahwa mempraktikkan Dharma tanpa berhubungan dengan orang lain adalah menjauh dari hakikatdiri kita sendiri dan Dharma. Dharma adalah ajaran yang didirikan dari sifat manusia. Engkau akan memahami dirimu sendiri, pada akhimya hanya melalui interaksi dengan orang lain.
Jenis kebijaksanaan yang paling dasar disebut Kebijaksanaan Gerbang. Kebijaksanaan Gerbang yang pertama adalah gerbang yang membawa kita ke pencerahan diri. Kebijaksanaan Gerbang kedua adalah gerbang yang membawa kita pada betas kasih kepada semua makhluk lain.
Kebijaksanaan sesosok Buddha dapat digambarkan sebagai sempuma. mumi, mengetahui segala sesuatu, memiliki belas kasih tanpa batas dan kepiawaian sempuma untuk mengajar orang lain. Shastra Yogacarabumi menyebutkan, 'Kebijaksanaan Sempuma (sarvajna) tidak pernah terhalang oleh apa pun di alam manapun, oleh kejadian atau fenomena apa pun, oleh apa pun, kapan pun."
Untuk mencapai pencerahan sempurna di dalam pikiran Bodhi, seorang Bodhisattva harus mempraktikkan Enam Paramita. Di antaranya adalah Prajna Paramita, atau Paramita Kebijaksanaan Besar. Paramita ini sering disebut "Ibu Segala Buddha" karena Paramita sangatlah penting bagi praktik Dharma.
Kebijaksanaan prajna terdiri atas dua jenis, yaitu kebijaksanaan umum, yang dimiliki oleh semua umat Buddha dan kebijaksanaan tidak umum, yang hanya disadari oleh para Bodhisattva. Kebijaksanaan tidak umum adalah pemahaman bahwa Dharma tidak dapat dipraktikkan untuk diri sendiri, tetapi harus dibagi dengan orang lain.
Jalan lain untuk mengerti kebijaksanaan prajna adalah memahami bahwa hal itu mengandung "kebijaksanaan dunia ini" dan "kebijaksanaan yang melampaui dunia ini". Kehidupan para Bodhisattva didasarkan pada kebijaksanaan dan tujuan yang melampaui dunia ini. Pada waktu yang bersamaan, bagaimanapun, Bodhisattva tidak mengabaikan dunia ini. la hidup sepenuhnya di dalamnya dan memberikan yang terbaik dari dirinya sepanjang waktu.
Perbuatan yang paling bermanfaat
Untuk sepenuhnya mencapai kebijaksanaan prajna berarti menyadari bahwa semesta ini tebih besar dari diri Anda. la lebih besar dari dirimu dan ia adalah dirimu. la ada di pikiranmu dan ia melampaui semua yang ada di pikiranmu. Kebijaksanaan prajna meliput1 segala sesuatu. Tidak ada yang lolos atau di luar perhatiannya. Tidak ada yang bukan merupakan bagian yang sangat dekat. Ketika seorang praktisi menyadari kebenaran yang sederhana namun menyeluruh ini, ia akan segera mulai membawa kebaikan tak temingga bagi semua makhluk di semesta ini. Perahu di lautan muncul bersamaan. Burung-burung melayari langit dengan mengamati burung lain.
Buddha berkata: murah hati
tanpa Paramita Kebijaksanaan Besar
tidak akan membantu siapapun menyeberangi pantai seberang.
Jika engkan ingin menyeberang kepantai seberang.
kemurahan hatimu haruslah berdasarkan Paramita
Kebijaksanaan Besar.
Demikian pula dengan semua Paramita lainnya:
disiplin, kesabaran. kemajuan. perenungan.
Semuanya haruslah berdasarkan
Paramita Kebijaksanaan Besar.
Mengapa demikian?
Ini karena hanya Paramita Kebijaksanaan Besar
yang melihat kesetaraan mendasar dari segala sesuatu.
Sutra Mahaprajnaparamlta