Orang bisa jatuh cinta pada siapa pun dan dalam situasi apa pun, tanpa perlu mempersoalkan mengapa tiba-tiba ia jatuh cinta. Persoalan klasik seperti jatuh cinta lagi pun semakin mendapatkan momentumnya di tengah-tengah dunia yang cepat berubah dan tidak pasti ini. Godaan atau tawaran pesona duniawi pun sering datang sehingga banyak orang sering melupakan bahwa sebenarnya selalu saja ada yang tetap, ada yang bertahan.
Selalu ada yang bermakna, ada yang periu bertahan pada diri siapa pun dan dalam situasi apa pun, seperti misalnya kesetiaan dan keutuhan perkawinan. Bukankah selain ada filsuf Herakleitos (5 SM) yang menyatakan bahwa hidup perubahan, dunia juga dilengkapi dengan filsuf Parmenides (5 SM) yang menyatakan bahwa senantiasa ada yang bertahan, ada yang tetap di balik perubahan itu.
Inilah yang sering dilupakan para pendukung suatu perubahan, sehingga tidak aneh jika persoalan klasik jatuh cinta lagi, perselingkuhan, perceraian selalu berulang atau makin sering terjadi. Persoalan jatuh cinta lagi bagi mereka yang telah memasuki rumah perkawinan itu hanyalah satu contoh betapa manusia selalu terlibat dalam ketegangan antara kutub perubahan dan ketetapan, sebagaiman diskusi dua filsuf klasik Yunani mengenai dua prinsip yang mendasari kehidupan itu.
Peta Cinta dan Tipe Ideal
Mengapa orang bisa jatuh cinta lagi? Dan mengapa mesti melanjutkannya dalam perselingkuhan, entah diam-diam atau terang-terangan, dan mengancam perkawinannya? Bisa saja itu terjadi dikarenakan setiap orang punya peta cintanya sendiri, yaitu semacam panduan batin yang menuntun setera orang untuk memilih teman hidupnya.
Peta cinta yang merupakan suatu prototype tertentu dalam gambaran batinnya, seperti apa lawan jenis yang disukainya. "Kamu adalah tipe ideal saya." Itulah Wanita Idaman Lain (WIL) saya atau Pria Idaman Lain (PIL) saya.
Menurut ahli pasikonalisa, Carl Gustav Jung (1875-1961), The Undiscovered Self, (1968), dalam diri setiap manusia itu terkandung dua prinsip yang sating beriainan namun saling melengkapi, yaitu prinsip anima (prinsip feminim) dan animus (prinsip maskulin).
Selain itu, setiap orang juga memiliki typus idealnya termasuk terhadap lawan jenisnya. Karena itu, bisa jadi bahwa WIL seseorang adalah typus ideal dan prinsip anima yang terdapat dalam diri seorang laki-laki, dan PIL seseorang adalah typus ideal dari prinsip animus yang terdapat dalam diri seorang wanita.
Tipe ideal itu tidak selalu hanya menyangkut fisik saja, namun juga bisa menyangkut kualitas-kualitas atau sifat-sifat tertentu. Ada lelaki yang lebih suka pada wanita keibuan, pada wanita yang atraktif, pada wanita yang berdada besar atau berpanggul lebar, dan seterusnya. Begitu juga dengan wanita. Ada yang lebih suka tipe pria kerempeng, pria berotot, yang tepos atau berdada bidang atau lebih tertarik pada pria kebapakan.
Setiap orang memiliki tipe idealnya. Karena itu masing-masing orang memiliki ciri khasnya dan tipe-tipe lawan jenisnya tersendiri. Dalam Buddha Dharma pun dikemukan mengenai adanya tipe-tipe istri. Seperti diungkapkan di dalam Anguttara Nikaya, ada istri yang bertipe pembunuh (vadhakasama), perampok (corisama), dan istri bertipe putri (ayyasama).
Terhadap istri yang dianggap ideal, yang dapat dipandang saleh, ideal dan patut didambakan oleh setiap pria, Sang Buddha dalam Anguttara Nikaya mengemukakan ada empat, yaitu: istri bertipe ibu (matasama), istri bertipe saudara (bhaginisama), istri bertipe sahabat (sakhisama), dan istri bertipe pelayan (dasisama).
"Sungguh beruntung engkau orang baik; sungguh beruntung engkau mempunyai istri yang begitu baik, yang telah menasehatimu dan menjadi gurumu, dan batinnya penuh kasih saying serta hasrat yang tulus untuk kesejahteraanmu." (Anguttara Nikaya III).
Begitu pula di dalam Maha Mangala Jataka Sang Buddha memberikan petunjuk dalam memilih seorang istri yang ideal: "Orang yang mempunyai istri luwes dan sepadan umurnya, patuh, baik dan subur, setia, bijak serta berasal dari keluarga baik. Inilah berkah yang terdapat pada istri."
"Bila suami dan istri ingin saling memandang (tetap bersama-sama) dalam hidup ini dan dalam kehidupan yang akan datang, maka keduanya harus seimbang dalam saddha (keyakinan), sila (moralitas), caga (kemurahan hati), dan panna (kebijaksanaan)." (Anguttara Nikaya II).
Tidak dipungkin, berbagai tipe ideal tersebut juga berdasar pada perangai yang dimiliki orang yang bersangkutan. Menurut Sang Buddha, ada enam macam perangai atau carita, yaitu: kenafsuan (raga carita), keserakahan (lobha carita) kebencian (dosa carita), kebodohan (moha carita), mudah percaya (saddha carita), dan cerdas (buddhi carita). (Visuddhi Magga}.
Apabila perangai-perangai ini dikombinasikan maka akan terdapat banyak macam perangai, dan mungkin dalam diri setiap manusia pun mengandung perangai-perangai itu. Namun biasanya juga mungkin hanya ada salah satu atau beberapa saja perangai yang menonjol dan sangat dominan pada diri seseorang.
Begitu beragamnya tipe-tipe seseorang, sehingga tidak mudah mendapatkan pasangan yang sungguh-sungguh ideal. Karena itu dalam perkawinan bisa jadi tidak semua orang berhasil mengabulkan peta cintanya. Tidak semua orang menikah dengan orang menurut gambaran peta cintanya. Temyata banyak suami atau istri menemukan sosok dan pribadi yang tidak sesuai dengan peta cintanya justru setelah terlanjur menikah.
Misalnya kini dia mendapati ternyata istrinya atau suaminya memiliki ciri-ciri yang disarankan Sang Buddha untuk dihindari, seperti: "seorang istri yang seperti algojo yang secara alami dikaitkan dengan musuh, istri yang seperti ratu yang menjengkelkan suaminya, yang seperti pencuri yang suka mengambil, tolaklah ke tiga istri semacam ini." (Nagarjuna dalam Surhleka).
Sedangkan untuk istri, disarankan untuk menghindari memperoleh suami yang "hidung belang, pemabuk, penjudi.dan pemboros."(VasalaSutta).
Atau bisa jadi, baik suami maupun istri temyata tidak mendapati "dia yang simpatik seperti saudara, dia yang selalu ada dihatimu seperti seorang pacar, dia yang mengasuh seperti ibu, dan dia yang siap membantu seperti pembantu." (Nagarjuna dalam Suhrieka).
Jatuh Cinta dan Selingkuh
Kegagalan pria dan wanita menemukan tipe ideahiya pada istri atau suaminya inilah yang berpotensi menjadi bom waktu perkawinan jika suatu hari suami atau istri punya peluang jatuh cinta dengan orang yang punya tipe persis sama seperti gambar dalam peta cintanya. Peta cinta yang mencerminkan kekasih ideal, kekasih idamannya.
Maka itu, wajariah kalau orang bisa jatuh cinta lagi, meski barangkali perkawinannya itu sendiri berjalan dengan baik dan bahagia. Tidak mustahil suami atau istri yang tampaknya baik dan setia itu temyata memiliki WIL (Wanita Idaman Lain) atau PIL (Pria Idaman Lain).
Kemungkinan untuk jatuh cinta lagi itu terbuka bagi setiap pasangan. Perkawinan yang bahagia dan moral yang kuat pun belum menjamin orang itu tak jatuh cinta lagi. Masalahnya mungkin bukan karena sengaja atau memang kepingin menghancurkan perkawinan, tapi soalnya karena situasi dan kondisilah, baik internal-dalam diri maupun eksternal-lingkungan yang bisa memungkinkan orang itu terjatuh.
Jatuh cinta lagi itu meski tampaknya wajar dan bisa dimengerti, namun berbahaya bagi keutuhan perkawinan, dan ini bisa diibaratkan seperti kehadiran virus dalam tubuh yang sukar dicegah. Virus ini dapat masuk dan segala pintu: ruang kerja, business dinner, kampus, tempat kursus, jaian-jalan luar negeri, halaman vihara, ruang kelas, sampai di rumah sendiri pun bisa ditembus olehnya. Sepertinya setiap suami itu diincar oleh seribu perempuan lain, begitu pula istri pun banyak yang mengincar.
Harold Bessel Ph.D, yang banyak menekuni soal-soal cinta dan pilihan teman hidup mengungkapkan bahwa unsur atraksi romantic (romantic attraction), dan kematangan emosi (emotional maturity) sebagai faktor yang juga ikut menentukan mutu suatu perkawinan dan menjadi bahan pertimbangan bagaimana orang memutuskan pilihan teman hidupnya. Tiadanya kedua atau salah satu dari unsur tersebut dapat menggoyahkan perjalanan perkawinan.
Mungkin saja suatu hari suami maupun istri menemukan atraksi romantiknya pada wanita atau pria lain. Keterpikatan dalam pertemuan pria-wanita yang sudah bersuami atau beristri tersebut punya makna erotik dan terasa menemukan peta
cintanya. Wanita atau, pria ideal yang sesuai dengan peta cintanya dan tidak ditemui dalam hidup perkawinannya, sehingga membuatnya jatuh cinta dan membawanya ke jenjang perselingkuhan dan perkawinan.
"Hidup ini memiliki banyak bahaya; yang lebih tidak stabil dibandingkan gelembung yang tertiup angin, adalah keajaiban terbesar bahwa manusia selamanya bangkit dan tidur." (Nagarjuna dalam Suhrlekd).
Tidak Semua dan Tidak Selalu
Peluang untuk jatuh cinta dan jatuh cinta lagi seperti itu memang besar sekali. Bisa saja terus berulang saban kali suami atau istri bertemu dengan tipe idealnya lagi. Tetapi, sebagaimana kehidupan mumi dan suci itu dimungkinkan meski banyak cobaan dan godaan, tentu saja tidak semua orang haras mengumbar emosinya sehingga peluang jatuh cinta lagi itu haras dijadikan kenyataan.
Tidak selalu suami atau istri yang memiliki pasangan bukan idealnya merasa dibenarkan untuk jatuh cinta lagi dan mengadakan perselingkuhan. Keterlibatan orang dengan agama, etika, adanya rasa kesetiaan, sikap dan pandangan hidup yang bijaksana, menjadikan mereka kuat untuk tidak jatuh cinta lagi atau berselingkuh.
Pegangan yang kuat pada sila dan cita-cita Buddhis dalam menggapai kesadaran luhur (lokuttara citta) meski dalam hidup perkawinan menjadikan masing-masing pasangan tidak terjatuh dalam lobha mula citta (kesadaran keserakahan) atau kama vicara citta (kesadaran nafsu indria) seperti yang terjadi dalam jatuh cinta lagi dengan pesona erotik, perselingkuhan atau perjinahan.
"Selanjutnya, Oh Raja Naga! Bila seseorang telah dapat melepaskan diri dan perjinahan, maka ia akan memperoleh empat pahala kebjjaksanaan yang akan dipuji oleh para bijaksana. Apa keempat pahala itu? Yaitu, indria orang itu akan terkendali dan berfungsi dengan baik, orang itu akan terbebas dan kesesatan, orang itu akan dipuji dan dihormati oleh dunia, dan istri orang itu tidak dapat digoda oleh orang lain. Inilah empat berkah. Bila seseorang sanggup mengarahkan jalan ke tingkat Anuttara Samyak Sambodhi, pada saat menjadi Buddha ia akan memperoleh wajah yang menakjubkan." (Dasa Kausalya Karma Sutra, dalam "Sutra-Sutra Mahayana," Chau Ming, 1985).
"Sila menghasilkan kebebasan dari penyesalan; kebebasan ini membawa suka cita, kegiuran hal-hal sebagaimana apa adanya, penolakan dan surutnya minat pada hal-hal duniawi, pembebasan sebagai tujuan akhir..., sila membawa berangsur-angsur ke puncak pencapaian." (Anguttara Nikaya V).
Meski jauh dari suami, dan banyaknya pangeran yang menggoda dan ingin meminangnya, Yasodhara istri Siddharta yang ditinggalkan bertapa itu tetap setia. Di dalam Candakinnara Jataka, sebagaimana diungkapkan oleh Pannananda Susila mengenai nasehat Sang Buddha kepada kaum istri (skripsi sarjana muda Akademi Buddhis Nalanda, 1985), diungkapkan, bahwa Yasodhara tetap melindungi, berbakti dan setia kepada Bodhisattva Sidharta. Kesetiannya itu tidak hanya dilakukan di dalam kehidupan terakhir, tetapi juga di dalam kehidupan-kehidupan sebelumnya.
Sebagai seorang istri yang setia, Yasodhara selalu mengikuti jejak suaminya, Sang Bodhisattva Siddharta. Apabila ia mendengar Sang Bodhisattva, setelah beliau meninggalkan istananya, memotong rambut, memakai jubah kuning, makan hanya satu kali sehari, melepaskan perhiasan dan sebagainya, maka ia pun turut melakukan semua itu. Dalam kesetiannya selalu mengikuti jejak suaminya, Sang Bodhisattva, dan juga sebagai pengikut Sang Buddha, Yasodhara akhimya berhasil memperoteh tingkat kesucian tertinggi dan memiliki MahaAbhinna.
Kisah Yasodhara, dan suasana hatinya ketika dalam penantian dan kesetiaan terhadap suami yang meninggalkannya namun tetap dibanggakakannya itu sangat sukar untuk dilukiskan. Namun begitu gemanya barangkali dapat kita petik bila kita menikmati lagu Sheila On-7 yang menjadi sound-track sinetron "Siapa TakutJatuh Cinta?"
Seberapa pantaskah kau untuk ku tunggu. Cukup Indahkah dirimu untuk selalu kunantikan. Mampukah kau hadirdalam setiap mitnpi burukku. Mampukah kita bertahan di saat kita jauh.
Seberapa hebatkah kau untuk kubanggakan. Cukup tangguhkah dirimu untuk selalu kuandalkan. Mampukah kau bertahan dengan hidupku yang malang. Sanggupkah kau meyakinkan di saat aku bimbang.
Celakanya hanya kau'lah yang benar-benaraku tunggu. Hanya kaulah yang benar-benar memahamiku. Kaupergidan hilang kemana pun kau suka.
Celakanya hanya kau lah yang pantos untuk kubanggakan. hanya kau-lah yang pantos untuk aku andalkan. Diantara pedih aku selalu menantimu,... menunggumu di sini!
Godaan dan Jalan Kesempurnaan
Pada umumnya dalan sepanjang hidup perkawinan, hampir mustahil pasangan hidup itu dapat selalu berjalan di jalan to) yang mulus tanpa hambatan dan godaan. Setiap suami atau istri tampaknya akan merasakan untuk jatuh cinta kembali, atau mungkin ditaksir dan menaksir kembali oleh wanita atau pria lain.
Untuk itu, bila saat untuk jatuh cinta lagi itu datang, hendaknya suami atau istri siap dan dapat memahaminya. Tidaklah harus terkejut atau menjadi histeris karenanya, namun sebaiknya dapat menyikapinya sebagai fenomenan yang mungkin dapat terjadi dan pandanglah lebih dulu sebagai godaan, tantangan yang harus dihadapi.
Dalam menghadapi datangnya sang penggoda itu, Ratthapala, seorang murid Buddha melukiskan wanita penggoda itu sebagai berikut: "Lihatlah tubuh itu khayali, membalut seperangkat rangka, dan menuntut banyak pikiran. Baginya tiada yang pernah tetap, tiada abadi. Lihatlah wujud khayali, walau dalam pakaian gemerlap, dengan cincin dan perhiasan, tulang belulang bersarungkan kulit. Kuku diwarnai cat, wajah dipulas bedak, cukup memperdaya si dungu namun tidak bagi pencari kekekalan." (Majjhima Nlkaya 82).
"Janganlah memandang istri orang lain, tetapi bila terpaksa, anggaplah dia sebaya dengan ibumu, anakmu atau saudaramu, jika kamu harus berdekatan dengannya." (Nagarjuna dalam Shurteka).
Disitulah barangkali letak seninya hidup perkawinan. Godaan harus dihadapi bahkan sebelum dia datang. Bila jeli dan waspada sebenamya malapetaka perkawinan yang faersumber dari jatuh cinta lagi itu tidaklah datang mendadak dan tiba-tiba. tapi perlahan-lahan. Bukankah the devils comes in small steps?
Meski virus perkawinan itu lihai dan licin, betah dan sabar membidik mangsanya secara perlahan-lahan, sesungguhnya dia dapat dideteksi dan ditangkal seawal mungkin. Dengan kewaspadaan dan niat, kehendak (cetana) yang sungguh-sungguh mnau menghindari, serta mencermati untuk tidak membiarkan dan menciptakan kondisinya, maka virus itu tidak akan dapat menuntut untuk berkembang biak.
Bila pasangan anda itu baik dan setia meski mungkin bukan tipe ideal, mengapa harus jatuh cinta lagi kepada orang lain dan meneruskannya ke jenjang perselingkuhan atau perkawinan? Cobalah limpahi pasangan anda yang baik dan setia itu dengan kehangatan, perhatian, dan penghargaan.
Dengan demikian, mungkin dia justru akan jatuh cinta lagi bukan kepada wanita, istri atau lelaki, suami orang lain melainkan kepada anda sendiri. Apakah bukan lebih bak buat dia jatuh cinta kembali kepada anda atau membuat diri anda jatuh cinta kembali kepadanya.
Siapa takut jatuh cinta lagi? Meski dengan pasangannya sendiri. Kalau Decani, bagaimana caranya?
Dalam Sigalovada Surra, Sang Buddha menasihatkan seorang suami agar mempertakukann istrinya dengan baik dan sopan dengan menjalankan lima hal: hormat, tidak memandang rendah, setia, memberikan kuasa, dan memberikan perhiasan (wujud perhatian yang menyenangkan).
Sebaliknya, istri pun hendaknya memperlakukan suaminya dengan: melakukan tugas dengan baik, merawat seluruh anggota rumah tangganya, setia, melindungi sesuatu yang merupakan milik suaminya, pandai dan rajin meiaksanakan kewajibannya.
Nasehat Sang Buddha dalam Sigalavada Sutta itu bisa menjadi resep untuk dapat jatuh cinta lagi kepada orang yang memang tepat dan patut dicintai. Perkawinan memang bukan wujud cinta yang sudah selesai, ideal, dan sempurna, dan karenanya harus senantiasa dapat diperbaharui, dikembangkan dan disegarkan, seperti misalnya dengan melihat segi-segi yang baru dan sifat-sifat yang tak terduga yang terdapat pada diri pasangan.
Mungkin pada awalnya memang banyak perkawinan yang didasari oleh semata kecantikan dan kemegahan lahiriah dan gairah seks saja, sebagaimana dengan kehendak dari banyak orang dalam memasuki perkawinan hanya semata untuk dapat bergaul secara seksuil. Namun, dalam perjalanannya. keindahan daya tarik seksuil itu semakin memudar dan tidak lagi menjadi misteri yang mempesona, dan dalam sisi yang lain, sifat, watak, kepribadianlah yang akan menjadi taruhannya.
Lebih dari itu, sesungguhnya yang sangat ideal, yang sempurna dan bernilai 100 dalam hidup perkawinan dan juga dalam realitas tidaklah selalu ada. Yang ada adalah upaya memp^rjuangkan dan mewujudkannya, sebagaimana dengan perjalanan hidup seorang Buddhis yang tengah membuddha dan terus menerus untuk menjadi Buddha, mewujudkan sifat, karakterdan budi yang mengarah kesempurnaan.
Bila daya tarik fisik mungkin telah tidak mempesona lagi, bukankah masih banyak segi-segi lainnya dari sisi dalam atau pribadi pasangan yang masih menawarkan pesona misterinya dan masih dapat digali, diselami. Sumur yang dalam dan menyimpan air yang jernih dan pribadi yang penuh misteri itu tidak akan habis digali walau setiap hari ditimba dan diselami.
Masing-masing memang manusia mengandung misterinya sendiri yang tak habis diselami. Menyelami misteri pribadi pasangan akan membangkitkan kembali keterpesonaan terhadap sosok pasangan itu. Langkah ini mungkin dapat diawali oleh sebuah pertanyaan yang mencerahkan yang muncul di tengah malam ketika memandang dia berbaring, "siapakah orang ini sesungguhnya yang setia menemani saya selama bertahun-tahun?"
Meski barangkali orang memasuki perkawinan untuk menyempumakan dirinya dengan hidup berpasangan namun hidup perkawinan itu sendiri bukanlah sebuah kesempurnaan. Adalah perjuangan kita untuk meningkatkan yang serba terbatas dan belum sempurna ini.
Inilah langkah jalan kesempurnaan Buddha menuju yang tak terbatas. Termasuk bersama pasangan anda, sahabat seperjalanan melalui rumah perkawinan dalam menggapai kesadaran dan segala bentuk mentalitas yang cemerlang atau sobhana cetasika.