Goyang Inul
di Malam Waisak
Bagaimanakah
menyikapi semaraknya tarian atau goyang dangdut yan'g diperagakan ala Inul Daradista?
Mungkin ketimbang harus marah-marah atau mengutuk terhadap para artis yang kalau
mau dikatakan memperagakan seni erotis seperti itu alangkah baiknya kila mewaspadai
diri kita sendiri.
Fenomena
goyang erotis ala Inul Daradista lebih baik dipahami dan disikapi dengan bijaksana
dan bisa dijadikan pelajaran. Khususnya bagi setiap pejalan Buddha dharma, terlebih
lagi dalam suasana Waisak ini, untuk memahami makna Waisak yang semakin dalam
dan substansial.
Sambil
menanti bulan bulat purnama di malam Waisak. merenungi fenomena lnul,untuk
dengan
goyangnya yang meliuk-liuk itu ternyata dapat membawa hikmah yang tadinya terpendam.
Ketimbang menjalani Waisak secara rutin ritual-seremonial, mungkin ada baiknya
bila di malam Waisak ini kita bercanda dengan Inul, dengan goyangnya yang ngebor
itu, dan mungkin setelah dari sana, setelah bergoyang berasama Inul itu, kita
dapat memetik sesuatu yang hakiki tentang makna sejati pencerahan di malam Waisak.
Adakah
kaitan Waisak dan tarian erotis? Ya, tentu saja. Bahkan dalam suatu pementasan
sendratari yang mengisahkan tiga peristiwa di malam Waisak dalam perayaan Dharmasanti
Waisak Walubi di Jakarta Covention Hall di tahun 1995, yang melibatkan disainer
dan koreografer kondang Samuel Wattimena dan Sentot, Aim. Bhante Girirakkhito
Mahathera yang waktu itu bertindak sebagai sutradara sampai menciptakan sebuah
irama dangdut yang menggoda yang mengiringi sebuah tarian yang sensual dan erotis.
Lagu
dan tarian itu diciptakan dalam rangka memvisualisasikan perjuangan pertapa
Siddharta ketika mengatasi gangguan nafsu keinginan, indrawi, kemelekatan badani,
seperti tanha, arati, dan raga di malam Waisak. Sebuah lagu berirama dangdut
dan tarian,erotis menggoda pertapa Siddharta di malam Waisak. Itulah sebuah
visualisasi yang sesuai sebagaimana yang banyak dituliskan di dalam buku riwayat
Buddha Gotama.
Dalam
buku Riwayat Buddha Gotama, yang disusun oleh Maha Pandita Sumedha Widyadharma
bahkan diceritakan bahwa meskipun setelah mencapai penerang sempurna, dan ketika
sedang menikmati tujuh minggu pencapaian kebahagiaan yang luar biasa itu, selama
minggu ke lima, Sang Buddha yang bermeditasi di bawah pohon Apala Nigrodha (pohon
beringin), tidakjauh dari pohon Bodhi kedatangan tiga orang anak Mara,
yaitu Tanha, Arati, dan Raga yang berusaha untuk menggoda dan
mengganggunya.
Ketiga
anak Mara itu (sifat-sifat buruk nafsu inderawi, ragawi) itu menampakkan
diri sebagai tiga orang gadis yang elok dan menggiurkan yang dengan berbagai
macam tarian yang erotis (penuh nafsu birahi), diiringi nyanyian yang merdu
dan bisikan yang memabukkan, berusaha untuk merayu dan menarik perhatian Sang
Buddha. Tetapi akhirnya, Sang Buddha sendiri dapat mengatasinya dan tiga anak
Mara ini pun lenyap tuntas dari dirinya yang murni, bening, suci sempurna.
Godaan
nafsu keinginan inderawi, ragawi itu merupakan sesuatu yang alami, ada di dalam
diri manusia dan bisa datang kapan saja, kepada siapa saja sekalipun itu pejalan
kesucian. seorang guru atau pertapa. Bahkan Buddha Gotama yang baru saja mencapai
pencerahannya di malam Waisak pun tak luput dari kedatangan godaan itu yang
merupakan sisa sifat-sifat buruk yang masih ada di dalam dirinya.
Semua
sifat buruk itu pun ada di dalam diri kita semua. Karenanya upaya memerangi
godaan inderawi itu pun sesungguhnya adalah upaya bagaimana kita menaklukkan
diri kita sendiri, menaklukkan tanha (nafsu inderawi) sumber penderitaan yang
masih terpendam laten di dalam diri kita itu.
Karenanya
upaya mengatasi dampak fenomena goyang ala Inul Daradista, Annisa Bahar dan
lain-lainnya - karena telah menjadi seni massa yang didukung oleh teknologi
dan industri kapitalisme itu, meskipun sesungguhnya ada yang jauh lebih dahsyat
dan berbahaya seperti pornografi dalam ragam medianya, adalah juga upaya memerangi
dan mengatasi sifat-sifat buruk yang laten terpendam di dalam diri kita sendiri.
Fenomena
Inul Daratista diantara faulan bulat, terang purnama Waisak mengingatkan kita,
bahwa ada jauh yang lebih hakiki yang masih dapat dan perlu kita raih. Bahwa
di balik segala penampakan kemilau dan gemerlapan kehidupan duniawi ini juga
tersimpan benih-benih pencerahan. Dunia pertapaan itu terdapat dimana-mana,
dan di balik goyang Ngebor Inul, tersimpan pelajaran tentang makna pencerahan
bulan purnama Waisak! (jo).
(Tabloid Buddhis CAKRA, No 02/MEI-2003/TH.I)